Kamis, 19 Desember 2013

Penyakit Pendidikan Kita #BestArticle

MENGAPA ORANG INDONESIA KURANG KREATIF..?
Prof. Ng Aik Kwang dari University of
Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Lees Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi best seller..
(www. idearesort .com/ trainers)
mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang. Bagi kebanyakan orang INDONESIA, dalam budaya mereka, UKURAN SUKSES dalam hidup
adalah banyaknya MATERI yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). PASSION (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter,lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak. Bagi orang INDONESIA, BANYAKNYA
kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripad CARA memperoleh kekayaan tersebut.
Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau
dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu.
Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir diterima sebagai sesuatu yang wajar. Bagi orang INDONESIA, PENDIDIKAN IDENTIK DENGAN HAFALAN berbasis “KUNCI JAWABAN” bukan pada PENGERTIAN. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan.
sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus Ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit
sedikit tentang banyak hal tapi tidak
menguasai apapun). Karena berbasis hafalan, banyak pelajar INDONESIA bisa jadi juara dalam Olympiade

Minggu, 15 Desember 2013

Aku, si manusia Nol lebih dikit #Cermin5

Oh, ternyata usiaku baru.....*
Hari ini Ahad tepat tanggal 11 Shofar 1435 Hijriah, Jika ditarik mundur kebelakang tepatnya ke hari kamis tanggal 11 Shofar 1412 hijriah, berarti berjarak 23 tahun, ya 23 tahun, itulah kalkulasi umurku.. sebuah rentetan angka, Sebuah standart kuantitas, menurutku..
23 tahun kurasa waktu yg cukup kenyang untuk menjelajah zaman, melompati waktu, dan menghisap berbagai pengalaman..
Berbagai rasa telah terserap, berbagai cerita telah kukunyah,
Bebagai pesan telah kutelan...
sedih, senang, kecewa, bahagia, tangis, tawa, sesal, bangga, benci, cinta..
Darah, air mata, dan sebagainya..
Tapi, jika diukur dari sisi usia,kudapati diri ini hanya si manusia nol..nol lebih dikit.. Satu setengah tepatnya..
Aku tak melihat angka di usiaku, kecuali 1 setengah itu, yupp, setelah kuhitung2, mungkin hanya itu ukuran yg pas buat usiaku, masa aktif yg ku isi dengan hal yg berharga..
karena usia adalah standart kehidupan yg berkualitas, dari sejak lahir hingga detik ini. Saat aku bercermin saat itu pula aku selalu bertanya kepada bayangan didalam cermin tersebut; kehidupan kamu yg manakah yg berkualitas, kapan itu? Dimana? Berapa lama? Apa yg menyebabkannya berkualitas? Benarkah itu bisa dinamakan berkualitas? Tapi pertanyaan2 itu hanya membentur ruang kosong..

Sabtu, 14 Desember 2013

Karena kita beda

Mereka bilang: "Santai dulu lah..."
Kita berkata: "Kenapa tidak sekarang?"
Mereka menunduk, dan menangis lalu meratap: "Tak ada lagi harapan...,
Kita akan berdiri dan berkata: "Ayolah, pasti ada jalan keluar!"
Mereka berkata: "Sudahlah, cukup!" Kita akan bilang:" Apalagi yang harus Kita kerjakan"
Mereka putus asa:" Dia memang ahli, karena itulah dia menjadi juara"
Kita akan menjawab: "Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?"
Mereka berkoar-koar: "Aku akan sukses suatu hari nanti.."
Kita akan bertindak:"Lakukan sesuatu, dan suksesku akan kuraih mulai hari ini"
Mereka bermimpi: "Aku akan membahagiakan diriku sendiri"
Kita akan bermimpi: "Aku akan membahagiakan orang- orang yang menyayangiku, sekaligus yang membenciku"
Mereka berpendapat: "Kalau menjadi sukses itu takdir"
Kita akan menjawab: "Apakah kita hanya akan menunggu takdir? ikhtiyar semaksimal mungkin mulai sekarang."
Mereka mengeluh: "Susahnyaa..." Kita akan berkata: "Allah pasti membantu hambanya yang mau berusaha"

Dimanakah aku berada? #cermin3

“Aku khawatir terhadap suatu masa yang
roda
kehidupannya dapat menggilas keimanan,
keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak
berbekas dalam perbuatan…. banyak orang
baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman… Ada lidah fasih
tapi berhati lalai, ada yang
khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian… Ada
ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis,
ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi…

Pakaian

Pada suatu hari, berjumpalah kebaikan dan
keburukan di tepi pantai. Dan mereka berkata
kepada satu sama lain : ''mari kita mandi di laut..''
Lalu mereka menanggalkan pakaian jubah mereka
dan mereka berenang di laut. Dan setelah beberapa
lama, keburukan kembali ke pantai dan mengenakan pakaian kebaikan lalu pergi.
Saat kebaikan keluar dari laut, ia tidak menemukan
pakaiannya lagi, tapi karena malu tidak berpakaian,
ia pun mengenakan pakaian keburukan. Lalu pergi..
Dan hingga hari ini, manusia keliru mengenali
keduanya. Tetapi ada juga manusia yg telah mengenal wajah
kebaikan, dan mereka mengenalinya walaupun ia
mengenakan pakaian keburukan. Dan ada juga yg
mengenali wajah keburukan, dan pakaiannya tidak
bisa menyembunyikannya dari mata mereka...!!!
(Disarikan dari buku the wanderer, karya Kahlil Gibran )

Mengapa kita masih kecil? #Cermin1

Mengapa kita masih saja kecil?
Mungkin kita belum punya mimpi2 besar..
Mengapa kita masih saja kecil?
Mungkin kita masih egois dan tidak memikirkan
kepentingan orang lain..
Mengapa kita masih saja kecil? Mungkin kita masih asyik tertawa dan lupa
menghapus air mata sesama...
Mengapa kita masih saja kecil?

Balada Buah Durian #Bagian2

Seperti musim2 durian sebelumnya, musim ini saya juga ''kempunan'' menyantap buahan yg juga jadi buah favorit raja hutan ini. Tanah rantau memisahkan jarak untuk memungut langsung buahnya, maka sambil menelan ludah saya mencoba memungut hikmahnya saja yg tersisa dari sepak terjang King of fruits ini.. Hikkss.. Setidaknya saya berhasil mengumpulkan delapan butir hikmah dan pelajaran yg bisa diterapkan di kehidupan nyata kita..*
1-Jika orang barat sana mempunyai pepatah "Don't judge book by its cover." jangan menilai buku dari sampulnya saja- maka saya katakan: Don't judge durian by durinya saja..
jangan menilai sesuatu dari luarnya saja, bisa jadi yg keliatan buruk diluar, tapi dalamnya aduhai..
2-kebaikan tetaplah kebaikan meskipun tersembunyi dari pandangan mata, aromanya tetap akan tercium dimana saja..
3-semakin tinggi dari tempat jatuh, semakin nyaring bunyi gedebuknya, semakin besar dan tinggi ujian , semakin kuat kita menghadapi tantangan hidup..
4-Buah durian yg lezat adalah buah yg jatuh sendiri pada waktunya. Bukan yg diperam atau yg dikarbit. Selain beda rasa, aromanya juga tidak begitu tajam.
Sesuatu yg alami itu pasti lebih baik. Jangan mensegerakan sesuatu jika belum datang masanya. cacat..!
5-Biasanya, ada durian ada manggis. Tak terpisahkan, selalu berdekatan.
Karena durian yg bersuhu panas akan diredam manggis yg bersuhu dingin.
coba perhatikan orang yg gampang emosian rata2 akan dikelilingi orang2 yg berjiwa sabar.
6-Jika mau menyantap durian dengan sempurna, maka tancapan golok harus mengikuti garis dan alur yg ada di kulit buahnya. Tidak asal bacok.
Jika ingin hasil sempurna, kerjakan sesuatu pakai ilmu.
7-Resiko berdekatan dengan durian adalah tertusuk durinya dan berdarah, maka dibutuhkan kehati2an dan kelembutan. Jangan asal pegang.
Begitu pula dunia, penuh onak dan duri serta jebakan lainnya, butuh ketelitian dalam melangkah dan bergerak. jangan asal seruduk.
8-Seberapapun enaknya buah durian, dan sekuat apapun kita melahapnya, suatu saat kita akan sampai pada satu titik dimana kita akan stop dan tidak bisa melanjutkan. Begitu juga kehidupan ini, seenak apapun hidup kita, sekuat apapun jasad kita, kita pasti akan sampai pada satu titik dimana semua itu tidak bisa dilanjutkan. Dan itu dinamakan kematian.*

Jumat, 13 Desember 2013

Balada Buah Durian #Bagian1

Sahabat, saat ini di desa saya khususnya dan di wilayah Jambi secara umum sedang bersuka cita karena kedatangan ''tamu'' bernama musim durian. siapa yg tidak kenal si raja buahan ini, meskipun tampangnya menyeramkan tapi ia tetap menjadi idola bagi orang2. Meskipun baunya agak sedikit kontroversial bagi sebagian kalangan, tapi untuk rasanya tak ada yg bakal protes menurut saya, ” Smell like hell, taste like heaven” hehe...
Disini saya tidak berbincang hakikat buah durian atau teknik mengadang durian, itu ada bab nya tersendiri, tapi saya akan mengulas dimana ada sebuah moment yg indah dalam ''ngadang'' durian.. Yah disaat angin bertiup kencang, inilah golden moment yg selalu ditunggu para pendekar pengadang duren..
Suara angin dan suara ceprasss gedebukkk adalah aransemen alam yg sangat indah dinikmati telinga..
Berhamburan berlari mengejar durian yg runtuh, berebut memungut puluhan durian yg tergolek pasrah.. Semua mata, semua penglihatan, semua perhatian diarahkan kebawah, tak seorangpun mendongakkan kepala keatas, begitu serius, begitu fokus menyambar ni'mat ini..
Tapi, disaat angin yg kencang tadi menjatuhkan sepotong ranting yg sudah rapuh diatas sana, dan tepat mengenai kepala salah seorang tadi, baru semuanya sadar, semua mengalihkan mata, pandangan, perhatian dan fokus kearah atas....
Sahabat yg budiman, kira2 begitulah keadaan kita selama ini, buah durian itu adalah perumpamaan dari ni'mat yg selalu Allah curahkan kepada kita, tapi karena keasyikan pada ni'mat tersebut, kita lalai, kita lupa kepada Dia yg diatas, kepada Dia yg menurunkan ni'mat tersebut.. Maka dengan cara halus Allah menegur kita dengan cara menjatuhkan ranting (cobaan) tadi kepada kita, agar kita kembali menoleh dan mendongakkan kepala keatas, agar kita kembali tersadar, kembali rujuk kejalan yg benar, kembali mentaati Nya*