Seperti musim2 durian sebelumnya, musim ini saya juga ''kempunan'' menyantap buahan yg juga jadi buah favorit raja hutan ini. Tanah rantau memisahkan jarak untuk memungut langsung buahnya, maka sambil menelan ludah saya mencoba memungut hikmahnya saja yg tersisa dari sepak terjang King of fruits ini.. Hikkss.. Setidaknya saya berhasil mengumpulkan delapan butir hikmah dan pelajaran yg bisa diterapkan di kehidupan nyata kita..*
1-Jika orang barat sana mempunyai pepatah "Don't judge book by its cover." jangan menilai buku dari sampulnya saja- maka saya katakan: Don't judge durian by durinya saja..
jangan menilai sesuatu dari luarnya saja, bisa jadi yg keliatan buruk diluar, tapi dalamnya aduhai..
2-kebaikan tetaplah kebaikan meskipun tersembunyi dari pandangan mata, aromanya tetap akan tercium dimana saja..
3-semakin tinggi dari tempat jatuh, semakin nyaring bunyi gedebuknya, semakin besar dan tinggi ujian , semakin kuat kita menghadapi tantangan hidup..
4-Buah durian yg lezat adalah buah yg jatuh sendiri pada waktunya. Bukan yg diperam atau yg dikarbit. Selain beda rasa, aromanya juga tidak begitu tajam.
Sesuatu yg alami itu pasti lebih baik. Jangan mensegerakan sesuatu jika belum datang masanya. cacat..!
5-Biasanya, ada durian ada manggis. Tak terpisahkan, selalu berdekatan.
Karena durian yg bersuhu panas akan diredam manggis yg bersuhu dingin.
coba perhatikan orang yg gampang emosian rata2 akan dikelilingi orang2 yg berjiwa sabar.
6-Jika mau menyantap durian dengan sempurna, maka tancapan golok harus mengikuti garis dan alur yg ada di kulit buahnya. Tidak asal bacok.
Jika ingin hasil sempurna, kerjakan sesuatu pakai ilmu.
7-Resiko berdekatan dengan durian adalah tertusuk durinya dan berdarah, maka dibutuhkan kehati2an dan kelembutan. Jangan asal pegang.
Begitu pula dunia, penuh onak dan duri serta jebakan lainnya, butuh ketelitian dalam melangkah dan bergerak. jangan asal seruduk.
8-Seberapapun enaknya buah durian, dan sekuat apapun kita melahapnya, suatu saat kita akan sampai pada satu titik dimana kita akan stop dan tidak bisa melanjutkan. Begitu juga kehidupan ini, seenak apapun hidup kita, sekuat apapun jasad kita, kita pasti akan sampai pada satu titik dimana semua itu tidak bisa dilanjutkan. Dan itu dinamakan kematian.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar