Sabtu, 06 April 2013

Dan tinta inipun mencair, dan cinta itupun mengalir

Siang yang pengap, udara Jakarta terasa kelat...

Kawan, ini adalah tulisan pertama saya setelah vakum hampir satu tahun, tak tau kenapa setiap kali ingin menulis, otak seperti buntu, padahal sebelumnya kata-perkata sudah berseliweran di kepala, kalimat-perkalimat berdesing-desing di Tol khayal saya, tapi tetap saja setiap mau memulai menarahkan satu huruf, tiba-tiba tinta seperti beku, alhasil... Pusssss... apa tadi yang ada di kepala semuanya menguap, seperti es batu ditaruh di aspal pada siang hari, atau seperti kerupuk dihadapkan ke kipas angin.
Nah, entah kenapa siang ini keinginan mencoret-coret saya begitu kuat, disamping itu saya kasihan pada blog saya ini sudah lama sekali terlantar, tak pernah lagi disapa, ia seperti telah menjadi yatim-piatu.

Kawan,, meskipun saya masih newbie alias blogger pemula, saya selalu berusaha menetaskan apa saja yang ditelurkan fikiran saya, baik itu berupa sebutir ide, khayalan, persepsi, asumsi, uneg-uneg hingga hipotesis.
Kenyataannya adalah; dengan menulis saya merasa plong, ada satu sensasi tersendiri, seperti orang yang hidungnya gatal tiba-tiba ia bersin, suatu kepuasan yang tak kentara..
Berbicara mengenai menulis, apa sih fungsi dari menulis? ''agar kita bisa berfikir teratur'' seperti itulah yang dikatakan oleh bang Faris, bos dan pemilik kafefaris.com
Kawan... saya yakin semua kita bisa menulis, tapi sedikit sekali yang mau menulis. Kenapa? Karena tidak mau mencoba, baik itu karena alasan takut atau malu. Ya, takut salah dan malu karena tulisannya belum keren. Shohihkah alasan ini kawan? Tentu saja tidak...
Sebenarnya itu bukan alasan, tapi lebih tepatnya itu racun, racun yang menggerogoti kreatifitas kita. Bukankah jauh-jauh hari bapak sastrawan kita Pramoedya Ananta Thoer berkali-kali menyeru;
''Tulis,tulis dan tulislah, tidak peduli akan dibaca, disukai oleh orang lain atau tidak,, tapi tulislah.. Niscaya suatu saat akan berguna''.
Kawan,, saya sendiri adalah penulis pemula yang
masih harus banyak belajar, tulisan-tulisan saya pun masih seperti jalan di Jakarta, semrawut. Tapi saya tidak patah semangat, bukankah dari kesalahanlah kita belajar.
Kawan,,mari kita sama-sama menulis, jadikan kegiatan menulis suatu kebutuhan yang wajib seperti halnya makan. Dengan menulis berarti kita mencatat sepersekian sejarah kita.
Saya sendiri termotivasi ketika membaca salah satu tweet mas Ipho Santosa, penulis buku-buku bestseller, tweetnya begini : @Iphoright yang susah itu memulai, lebih susah lagi membiasakan, tapi kalau sudah dimulai & dibiasakan, maka akan amat sulit dihentikan..*
Mari mencintai goresan tinta kita sendiri..!

Salam hangat dari Jakarta

Tidak ada komentar: