|
|
12
Shafar
1437… hari ini
Tanggal
ini di tahun itu..
Kamis
12 Shafar 1412---22 Agustus 1991..
25
tahun yang lalu..
Pengembara
kecil itu terlempar di padang dunia nan fana, sebuah arena yang menjadi altar
pertarungan nasibnya nanti.
Perlahan
ia buka mata sambil menangis lazimnya bayi yang lemah.
Orang-orang
tersenyum, tertawa, dan bergembira disekitarnya.
Lalu
sebuah usapan dan kecupan hangat dikepalanya membuatnya menengadah… dan
seberkas cahaya mata penuh cinta menatapnya sambil tersenyum… seorang
perempuan, yang setelah bisa berbicara nanti ia panggil dengan sebutan IBU…!
Setelah
beberapa hari, akhirnya bayi itu diberi nama: Muhammad Afkar.
“mudah-mudahan
si kecil kelak lebih banyak berfikir….” Ujar si pemberi nama; nyai Ning,
saudari kembar dari nenek si bayi.
Tapi
nanti, puluhan tahun setelah itu, nyatalah bahwa nama tersebut terasa berat
bagi si penyandang.
Berbicara tentang nama,
ternyata si bayi nyaris menyandang nama lain sebelumnya; Anggara… sebuah nama
yang dipilih oleh lelaki subuh, ayah nomor satu sedunia.
Berbicara tentang lelaki emas ini,
dimanakah ia saat bayinya terlahir menyapa dunia? Dimanakah ia saat isterinya
bertaruh nyawa untuk menyelamatkan bayi laki-lakinya ini?
Ia
disana..disana.. jutaan mil didalam rimba.. bekerja pada sebuah PT kayu.
Bekerja keras, memeras keringat demi orang-orang yang dikasihinya.
Saat sebuah kabar hinggap didadanya,
bahwa putra fajarnya telah terlahir, bergegas ia tulis surat, bertanya dan
memberi kabar, beberapa minggu lagi ia akan pulang, dan dalam surat itu terselip
calon nama bagi sang bayi.
Tapi
pada akhirnya, nama tersebut tereliminasi karena hampir menyerupai nama anak
pertamanya.
Jika
dipikir-pikir, nama Anggara keren juga ya.. kan bisa dipanggil; Gara..!
****************************
Hawa
pedesaan sangat membantu bagi perkembangan kesehatan sang bayi. Desa Gurun Tuo,
sebuah desa yang unik secara geografis. Berlatarkan hutan rimba, dan
berhalamankan sungai yang ternama tembesi. Ah rasanya ada bab tersendiri yang
akan berkisah tentang desa ini.. kapan-kapan saja.
Kita kembali pada perkembangan
sang bayi..
Di
dunia ini, jika ada misteri yang besar, maka pastilah itu waktu. Ia tak bisa
dikira-kira, tak mampu dikalkulasi, tak bisa dikompromi.
Dan
dari dalam selubung waktu itu, berloncatanlah nasib-nasib mencari jiwa-jiwa
yang telah ditakdirkan buat dihinggapinya.
Itulah
waktu, itulah nasib. Satu kesatuan yang tak terpisahkan, yang membingungkan;
nasib itu hadir karena waktu?, atau waktu itu muncul karena hadirnya nasib?...
ah sudahlah..enyahkan pertanyaan senewen itu, kan tadi sudah dibilang, waktu
itu adalah misteri.. jadi jangan bertanya lagi..!
Sudah
berlalu tiga purnama lebih.. tiba-tiba nasib menyampaikan pesan takdir, bahwa
keluarga ini harus pindah.. dari desa tumpah darah menuju bumi transmigrasi.
Semua bermula saat paman Hayat, sepupu sang Ayah
yang
bertamu malam itu. Ia bercerita dan menawarkan tentang peluang mendapatkan
tanah, rumah, dan perkebunan kelapa sawit. Tapi dengan syarat harus mengikuti
program transmigrasi yang digalakkan pemerintah Soeharto masa itu..
setelah
berdiskusi panjang dengan sanak family, sang ayah akhirnya menerima tawaran
itu.
Beberapa
minggu setelah itu, keluarga ini dan satu keluarga lainnya meninggalkan desa
tercinta menuju tempat yang tak pernah terpetakan dalam angan-angan. Negeri
asing.
Jarak
yang jauh dari perkotaan membuat desa sama sekali tak tersentuh mobil atau
angkutan umum lainnya.
Satu-satunya
jalur transportasi adalah sungai, dan alat transportasi yang paling beken
adalah boat; Perahu bermesin.
Perpisahan
hari itu adalah hari paling mendung bagi hati keluarga kecil itu dan hati
keluarga besar yang ditinggalkan.
Dan
mata-mata yang sembab itu meluaplah air-air kesedihan. Seperti meluapnya sungai
tembesi saat itu.
Bersambung…..
