Jumat, 09 Oktober 2015

Detik-Detik Berpisah dengan Rosulullah

Rasulullah shalallahu ´alaihi wa salam., tidak ada kata terindah selain shalawat dan salam bila mendengar namanya (semoga shalawat serta salam selalu tercurah padanya). Tatkala mendengar namanya kan terbayang dibenak kita sosok sempurna yang memiliki keluasan ilmu, kesempurnaan fisik, kecerdasan akal ,,, tapi semua itu ter‘tutupi‘ oleh ketawadhu’an ,,kemuliaan akhlaq , kejujuran sikap dan perkataan beliau, sebagaimana yang diuraikan oleh sahabat-sahabat beliau sendiri

Dan tidaklah bila orang berbicara dengan beliau maka orang itu menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (yang paling dicintai Rasulullah) – Amr ibn ash

Beliau memiliki hati yang paling pemurah antara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barangsiapa yang melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa yang pernah berkumpul dengannya, kemudian kenal padanya, tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “ belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa beliau saw ( Ali ibn Abu Thalib)

Hajji-nya Rosulullah

Pada tahun 625 (4 Hijri), Allah menetapkan bahwa syariat haji dari Nabi Ibrahim a.s. harus dilaksanakan oleh umat Islam, dengan turunnya ayat: "Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam" (Ali Imran 97). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah haji diwajibkan "bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana" (man istatha`a ilayhi sabila), yaitu mampu dalam hal fisik (sehat), finansial (mempunyai biaya), dan sekuriti (aman tiada gangguan). Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. baru menunaikan ibadah haji tahun 10 Hijri (632 M), tiga bulan sebelum beliau wafat dan enam tahun sesudah ayat di atas diwahyukan. Ketika perintah haji itu diwahyukan Allah, Makkah sedang dikuasai oleh kaum musyrikin yang memusuhi Muslimin di Madinah. Beberapa bulan sebelum perintah haji itu turun berlangsunglah Perang Uhud (3 Hijri), dan tahun sebelumnya (2 Hijri) terjadi Perang Badar, lalu pada tahun 5 Hijri terjadi Perang Khandaq. Kondisi seperti itu sudah tentu tidak memungkinkan bagi Nabi Muhammad saw. beserta para sahabat untuk menunaikan ibadah haji.
Akan tetapi Rasulullah saw.