Selasa, 24 November 2015

INTERVAL






12 Shafar 1437… hari ini
Tanggal ini di tahun itu..
Kamis 12 Shafar 1412---22 Agustus 1991..
25 tahun yang lalu..

Pengembara kecil itu terlempar di padang dunia nan fana, sebuah arena yang menjadi altar pertarungan nasibnya nanti.
Perlahan ia buka mata sambil menangis lazimnya bayi yang lemah.
Orang-orang tersenyum, tertawa, dan bergembira disekitarnya.
Lalu sebuah usapan dan kecupan hangat dikepalanya membuatnya menengadah… dan seberkas cahaya mata penuh cinta menatapnya sambil tersenyum… seorang perempuan, yang setelah bisa berbicara nanti ia panggil dengan sebutan IBU…!

Setelah beberapa hari, akhirnya bayi itu diberi nama: Muhammad Afkar.
“mudah-mudahan si kecil kelak lebih banyak berfikir….” Ujar si pemberi nama; nyai Ning, saudari kembar dari nenek si bayi.
Tapi nanti, puluhan tahun setelah itu, nyatalah bahwa nama tersebut terasa berat bagi si penyandang.
                       Berbicara tentang nama, ternyata si bayi nyaris menyandang nama lain sebelumnya; Anggara… sebuah nama yang dipilih oleh lelaki subuh, ayah nomor satu sedunia.
            Berbicara tentang lelaki emas ini, dimanakah ia saat bayinya terlahir menyapa dunia? Dimanakah ia saat isterinya bertaruh nyawa untuk menyelamatkan bayi laki-lakinya ini?
Ia disana..disana.. jutaan mil didalam rimba.. bekerja pada sebuah PT kayu. Bekerja keras, memeras keringat demi orang-orang yang dikasihinya.
      Saat sebuah kabar hinggap didadanya, bahwa putra fajarnya telah terlahir, bergegas ia tulis surat, bertanya dan memberi kabar, beberapa minggu lagi ia akan pulang, dan dalam surat itu terselip calon nama bagi sang bayi.
Tapi pada akhirnya, nama tersebut tereliminasi karena hampir menyerupai nama anak pertamanya.
Jika dipikir-pikir, nama Anggara keren juga ya.. kan bisa dipanggil; Gara..!
       
                                        ****************************

Hawa pedesaan sangat membantu bagi perkembangan kesehatan sang bayi. Desa Gurun Tuo, sebuah desa yang unik secara geografis. Berlatarkan hutan rimba, dan berhalamankan sungai yang ternama tembesi. Ah rasanya ada bab tersendiri yang akan berkisah tentang desa ini.. kapan-kapan saja.
              Kita kembali pada perkembangan sang bayi..
Di dunia ini, jika ada misteri yang besar, maka pastilah itu waktu. Ia tak bisa dikira-kira, tak mampu dikalkulasi, tak bisa dikompromi.
Dan dari dalam selubung waktu itu, berloncatanlah nasib-nasib mencari jiwa-jiwa yang telah ditakdirkan buat dihinggapinya.
Itulah waktu, itulah nasib. Satu kesatuan yang tak terpisahkan, yang membingungkan; nasib itu hadir karena waktu?, atau waktu itu muncul karena hadirnya nasib?... ah sudahlah..enyahkan pertanyaan senewen itu, kan tadi sudah dibilang, waktu itu adalah misteri.. jadi jangan bertanya lagi..!

Sudah berlalu tiga purnama lebih.. tiba-tiba nasib menyampaikan pesan takdir, bahwa keluarga ini harus pindah.. dari desa tumpah darah menuju bumi transmigrasi. Semua bermula saat paman Hayat, sepupu sang Ayah
yang bertamu malam itu. Ia bercerita dan menawarkan tentang peluang mendapatkan tanah, rumah, dan perkebunan kelapa sawit. Tapi dengan syarat harus mengikuti program transmigrasi yang digalakkan pemerintah Soeharto masa itu..
setelah berdiskusi panjang dengan sanak family, sang ayah akhirnya menerima tawaran itu.
Beberapa minggu setelah itu, keluarga ini dan satu keluarga lainnya meninggalkan desa tercinta menuju tempat yang tak pernah terpetakan dalam angan-angan. Negeri asing.
Jarak yang jauh dari perkotaan membuat desa sama sekali tak tersentuh mobil atau angkutan umum lainnya.
Satu-satunya jalur transportasi adalah sungai, dan alat transportasi yang paling beken adalah boat; Perahu bermesin.
Perpisahan hari itu adalah hari paling mendung bagi hati keluarga kecil itu dan hati keluarga besar yang ditinggalkan.
Dan mata-mata yang sembab itu meluaplah air-air kesedihan. Seperti meluapnya sungai tembesi saat itu.
                                                                                     
                                                                                                         Bersambung…..

Jumat, 09 Oktober 2015

Detik-Detik Berpisah dengan Rosulullah

Rasulullah shalallahu ´alaihi wa salam., tidak ada kata terindah selain shalawat dan salam bila mendengar namanya (semoga shalawat serta salam selalu tercurah padanya). Tatkala mendengar namanya kan terbayang dibenak kita sosok sempurna yang memiliki keluasan ilmu, kesempurnaan fisik, kecerdasan akal ,,, tapi semua itu ter‘tutupi‘ oleh ketawadhu’an ,,kemuliaan akhlaq , kejujuran sikap dan perkataan beliau, sebagaimana yang diuraikan oleh sahabat-sahabat beliau sendiri

Dan tidaklah bila orang berbicara dengan beliau maka orang itu menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (yang paling dicintai Rasulullah) – Amr ibn ash

Beliau memiliki hati yang paling pemurah antara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barangsiapa yang melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa yang pernah berkumpul dengannya, kemudian kenal padanya, tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: “ belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa beliau saw ( Ali ibn Abu Thalib)

Hajji-nya Rosulullah

Pada tahun 625 (4 Hijri), Allah menetapkan bahwa syariat haji dari Nabi Ibrahim a.s. harus dilaksanakan oleh umat Islam, dengan turunnya ayat: "Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam" (Ali Imran 97). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah haji diwajibkan "bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana" (man istatha`a ilayhi sabila), yaitu mampu dalam hal fisik (sehat), finansial (mempunyai biaya), dan sekuriti (aman tiada gangguan). Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. baru menunaikan ibadah haji tahun 10 Hijri (632 M), tiga bulan sebelum beliau wafat dan enam tahun sesudah ayat di atas diwahyukan. Ketika perintah haji itu diwahyukan Allah, Makkah sedang dikuasai oleh kaum musyrikin yang memusuhi Muslimin di Madinah. Beberapa bulan sebelum perintah haji itu turun berlangsunglah Perang Uhud (3 Hijri), dan tahun sebelumnya (2 Hijri) terjadi Perang Badar, lalu pada tahun 5 Hijri terjadi Perang Khandaq. Kondisi seperti itu sudah tentu tidak memungkinkan bagi Nabi Muhammad saw. beserta para sahabat untuk menunaikan ibadah haji.
Akan tetapi Rasulullah saw.