(dalam sebuah catatan)
Aku khabarkan kepadamu kawan;
tentang sesuatu yang berkeliaran disekitar kita, tapi tak teraba indera.Yah, ini tentang pujian.
Terkadang kita dapati sosok yang sangat senang mendapat pujian (ingat, bukan senang dipuji). Saat ia mendapati pujian, semangatnya menjadi berapi-api, kinerjanya semakin berlipat ganda, adrenalinnya tambah membara.
Tapi ada juga sosok yang pantang mendapat pujian, ia menjadi jengah, gerah, lesu, dan kehilangan motivasi. Kenapa? Karena dia menganggap pujian adalah beban. Dia sadar betul bahwa didalam pujian itu terselip ekspektasi yang diletakkan dipundaknya. Bagi dirinya, ekspektasi bukan hanya bermakna harapan, melainkan perkalian yang menuntut hasil pasti, atau bahkan lebih.
Nah, mungkin aku sendiri ada dalam lingkarang kelompok kedua ini.
Beberapa teman sering memuji gaya corat-coretku, katanya ini bakat-lah, passion-lah, seni-lah, kalau dikembangkan aku bakal jadi penulis besar, bla..bla..blaa.. yang jelas bagian terakhir ini sangat bombastis.
Huft,, mereka belum tahu bahwa semua itu adalah keterpaksaan. Yah, keadaanlah yang memaksaku untuk menulis. Meskipun kadang2 ada alasan klise bahwa menulis itu bertujuan menanam ingatan dan merawat kenangan.
Tapi, ada dua alasan dasar mengapa aku menulis. eh, harus menulis maksudnya.
Pertama, mungkin aku adalah satu dari sedikit makhluk Allah yang tidak cukup cerdas dalam komunikasi suara. Aku kadang2 berfikir, apa mungkin Allah Sang Maha Kuasa memindahkan ruh lidahku ke ujung mata pulpen? Sehingga yang tersisa dimulut ini daging kaku yang tak bergerak.
Betul-betul membuatku frustasi ketika aku dilempar kehadapan khalayak ramai untuk berbicara. Saat otak telah memproduksi ribuan huruf & siap melontar serentetan kalimat, nah saat itu juga tiba-tiba si lidah berkhianat.....!
ia melingkar acuh didalam mulutku dan pura2 tertidur...! Saat itulah aku benar2 ingin menghilang.
Dan alasan kedua, tentunya berhubungan dengan alasan pertama. Singkatnya begini:
Saat pikiran2, ide2, gagasan2, pertanyaan2, jawaban2, uneg2, informasi2, dan sebagainya, yang diproduksi otak tadi tidak menemukan jalan keluar, dengan kata lain tidak terekspresikan, maka jika dibiarkan akan terus menumpuk menjadi sampah di otak, lalu otak memanas, memanas, memanas, dan terus memanas.. Dan pada titik akhirnya kepala akan pecah. Oohhh sungguh tragis jika dibayangkan...
¤Seorang anak muda, pendiam, tidak bisu tapi tidak bisa berbicara, belum menikah, telah melepaskan bebannya beserta nyawanya dengan kepala pecah¤
^kira-kira begitu sejarah mencatat^
Oh no way, aku pikir itu bukan ide yang bagus. Makanya aku menghindari itu hanya dengan satu cara: MENULIS*
Jakarta 16-Mei-2014
Dibawah purnama 20.30 WIB
2 komentar:
Ane jadi kesindir sering muji2 tulisan nte.. hahaha
keren !
kalo diasah lagi bisa jadi penulis beneran, kalo suka nulis mending gabung ke FLP, disana bisa belajar banyak mengenai hal apapun, dan disana juga bila sudah banyak menciptakan karya, bisa jadi karya ny akan dibukukan.
#Keepfighting
Posting Komentar